Tangis Seorang Kakek
Hari ini aku, Noah, dan Papa akan mengunjungi salah satu museum yang terkenal di San Diego. USS Midway. Kapal induk bernomor lambung CV-41 yang aktif pada masa perang dingin, utamanya pada saat Amerika Serikat melakukan operasi militernya di Vietnam, dan pensiun pada tahun 1992. Sebagai seorang military addict, tentu aku jelas tahu kapal ini, dan tahu kalau aku benar-benar akan memijakkan kakiku di atas kapal yang bersejarah ini membuat udel-ku berputar tiada henti. Heck ya! I’d love that!
![]() |
| View on the Flight Deck of CV-41 |
Nama midway sendiri diambil dari nama salah satu pertempuran paling besar dalam sejarah angkatan laut, Battle of Midway, antara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Amerika Serikat. Dalam pertempuran ini, Amerika Serikat kehilangan salah satu kapal induknya, USS Yorktown. Tapi kapal ini tidak ada sangkut pautnya dengan teater pasifik di perang dunia 2 karena baru resmi diluncurkan beberapa minggu setelah perang dunia 2 usai. Pengalaman hidup selama sebulan lebih di atas kapal perang pun membuat USS Midway ini menjadi semacam nostalgia sendiri, walaupun yang ada disini hanyalah para veteran, namun entah bagaimana, aura pelaut masih benar-benar kuat terpancar dari mereka. Kapal ini, dibandingkan dengan KRI Makassar 590, jelas beberapa kali lebih besar, bahkan kalau bisa dibilang, dibuat lapangan bola pun bisa. Ya! Di dek hangarnya sendiri, cukup untuk memuat banyak pesawat. Untungnya aku berkunjung bersama Papa, seorang purnawirawan bintang dua Angkatan Udara Amerika Serikat. Di hangar deck ini, ada beberapa exhibit pesawat-pesawat militer yang pernah menjadi bagian dari USS Midway ini, rata-rata hanya bagian kokpit pesawat, namun kita bisa masuk dan berpura-pura menjadi pilot tempur hahaha.
Menuju flight-deck, atau tempat dimana pesawat lepas landas dan landing, lebih banyak lagi exhibit pesawat, bagian Flight deck ini jauh lebih luas daripada dek-dek lain, ya, jika aku jadi bagian dari awak kapal ini, mungkin butuh waktu sedikit lama agar tidak tersesat di dalam kapal. Yang menarik dari kunjungan ini adalah, banyak manequin awak-awak kapal terlihat seperti orang-orang Filipino dan Papa pun membenarkannya. Hanya dari seharian berkeliling kapal ini, membuatku merasakan kuatnya aura kehidupan militer, lebih khusus, kehidupan di atas kapal militer Amerika Serikat. Bagaimana audio “Captain’s aboard!” terdengar ketika kita memasuki ruang kapten kapal, video-video tentang pertempuran Midway, dan banyak lainnya, termasuk manequin-manequin yang menengakan seragam membuat mereka terlihat gagah.
Ada cerita tersendiri dari kunjungan kali ini, salah satu exhibit baru di museum ini adalah pemutaran video singkat tentang pertempuran midway, jelas tak mau ketinggalan, kita pun mengikutinya. Sick! Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya, bagaimana tidak? Video diputar dengan teknologi hologram sehingga membuatnya terkesan kita benar-benar sedang mendengarkan seorang pilot tempur berbicara. Kuperhatikan, Papa sedikit menangis ketika melihat videonya. Akupun teringat akan kata-kata yang pernah kudengar dari sebuah miniseries di HBO, “The worst thing about a war is not losing your limb, but losing your soul, and heart.” Sebagai seorang veteran di ‘perang yang terlupakan’ alias perang Vietnam, dan menyaksikan video tentang sebuah pertempuran di atas sebuah kapal yang juga ‘veteran’ jelas membawa nostalgia tersendiri baginya. Terlebih melalui cerita-cerita yang Papa sampaikan, tentang bagaimana ngerinya perang Vietnam, pahitnya kehilangan teman di medan tugas, bagaimana rasanya harus memendam rasa sedih karena melihat anak-anak yang lebih muda harus gugur, dan sebagai seorang pilot tempur, yang dalam pertempuran berpengaruh sebagai salah satu faktor dalam keberhasilan, dan hidup dan mati orang-orang di darat hanya bergantung pada sebuah tombol, jelas membawa tanggung jawab yang berat. Kalau bisa dibilang, setiap keputusan yang dibuat, akan selalu berarti ‘one more death to live within my nightmare’. Aku pun memberanikan diri menanyakan sesuatu, “Are you crying, Papa? Is this making you feel bad?” “No! Man doesn’t cry!” katanya sambil mengusap air mata dan berusaha mengambil sikap duduk tegak ala tentara. Dalam hati aku berkata ‘yea, sure Papa! Hahaha’.
Hari itu adalah salah satu hari terbaik di tahun ini, terlebih karena aku menghabiskan seharian di tempat yang aku minati, bersama orang-orang yang aku hormati. War is never good, but sometime there is a moment when war is the only choice for you to save the world from utter destruction. Untuk menutup post ini, aku ingin mengutip surat yang ditulis oleh Presiden Abraham Lincoln kepada seorang ibu yang kehilangan lima anaknya dalam perang saudara Amerika Serikat.
Executive Mansion,
Washington, Nov. 21, 1864.Dear Madam,--I have been shown in the files of the War Department a statement of the Adjutant General of Massachusetts that you are the mother of five sons who have died gloriously on the field of battle.I feel how weak and fruitless must be any word of mine which should attempt to beguile you from the grief of a loss so overwhelming. But I cannot refrain from tendering you the consolation that may be found in the thanks of the Republic they died to save.I pray that our Heavenly Father may assuage the anguish of your bereavement, and leave you only the cherished memory of the loved and lost, and the solemn pride that must be yours to have laid so costly a sacrifice upon the altar of freedom.Yours, very sincerely and respectfully,
A. Lincoln
3 November 2016
San Diego, California

Comments
Post a Comment