Wah Seksinya
Bebeapa hari lalu saya berdiskusi dengan beberapa teman perempuan saya mengenai Women's March yang kebetulan diadakan seminggu lalu. Isu ini sudah lama memancing perhatian saya, terlebih semenjak saya lebih mendalami isu ini kurang lebih setahun lalu saat saya mengikuti lomba AAUW di Mariposa County. Boleh diakui, sebelum mendalami lebih dalam tentang isu ini, saya cenderung tidak memihak pada mereka-mereka yang selalu gembar-gembor menyuarakan persamaan gender atau sejenisnya. "Lhah? Nggo opo? Lah saiki yo wes ayem ayem ae koq" pikirku kala itu. Namun lambat laun, isu ini mulai menjadi salah satu isu yang banyak menguras waktu saya untuk lebih mendalaminya.
Ada banyak hal yang dapat disoroti dari Women's March kemarin. Untuk masalah persamaan derajat atau biasa disebut persamaan gender (gender equity) saya sangat mendukung akan hal ini. Namun persamaan gender seperti apa yang harusnya diharapkan dan terus dituntut? Jika kita menengok kembali sejarah perjuangan wanita sejak abad ke 18. Dalam hal ini, saya akan secara spesifik menyoroti sejarah perjuanagn wanita di Amerika Serikat dan di Indonesia. Di Amerika sendiri, perjuangan menuju kesetaraan gender sudah dimulai jauh di tahun 1769 -7 tahun sebelum deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat- dimana di seluruh wilayah Amerika Serakat menerapkan hukum inggris yang melarang wanita untuk memiliki properti. Bahkan deklarasi kemerdekaan pada 4 Juli 1776 tidak membawa angin segara bagi kaum wanita, namun justru membuat kaum wanita kehilangan haknya untuk memilih setahun pasca deklarasi kemerdekaan. Semua terus berjalan hingga puncaknya, ketika Amerika Serikat memutuskan untuk melakukan amandemen konstitusi yang ke 14 dimana secara spesifik menyebut 'voter' sebagai 'male' yang semakin mengukuhkan bahwa wanita tidak memiliki hak suara. Semuanya berubah semenjak konstitusi kembali diamandemen untuk yang ke 19 kalinya pada 1920 menyatakan bahwa perempuan memiliki hak untuk memilih. 54 tahun setalah pelarang wanita untuk ikut serta dalam pemungutan suara. Di sini jelas bahwa di Amerika Serikat, perjuangan persamaan gender diawali dari pembatasan ruang gerak bagi kaum hawa baik di bidang kepemilikan properti, politik, bahkan ranah hukum. Di Indonesia sendiri, tokoh persamaan gender paling terkenal adalah Raden Ajeng Kartini, dengan bukunya "Habis Gelap Trbitlah Terang" yang ingin membebaskan wanita dari kepercayaan kuno masyarakat Jawa pada masa itu bahwa tempat wanita adalah di dapur. Tapi apakah di era-era dimana persamaan gender belum diperjuangkan, seorang wanita sebegitu dibatasi ruang geraknya? Pada kenyataannya wanita-wanita hebat seperti Arabella Mansfield dan Victoria Claffin tetap dapat menunjukkan taringnya di dunia hukum dan politik sebelum ada amandemen ke 19 di Amerika Serikat. Kebudayaan Jawa pun tidak selamanya mengurung wanita dengan perkakas dapur, nyatanya jauh sebelum terbitnya "Habis Gelap Terbitlah Terang", wanita hebat seperti Ratu Shima mampu memerintah kerajaan kalinga selama 60 tahun. Membuktikan bahwa raganya yang sebagai wanita tidak membuatnya sulit untuk dihormati dan dicintai rakyatnya. Hal-hal tersebut membuktikan bahwa setiap wanita pada dasarnya mampu bertahan dan menuju puncak piramida sosial tanpa perlu menggembar-gemborkan persamaan gender. Terlebih di era sekarang ini dimana wanita sudah jauh lebih bebas. Tidak ada lagi garis pembatas antara laki-laki dan perempuan selain bentuk fisik. Lihat berapa banyak perempuan yang kini terjun di panggung politik layaknya seorang Angela Merkel? Atau berapa banyak wanita-wanita yang terjun dalam dunia yang bahkan masih didominasi oleh laki-laki yaitu dunia militer. Bahkan dua orang dari beberapa perenang tercepat dalam kompetisi renang lintas selat sunda yang diadakan TNI Angkatan Laut beberapa waktu yang lalu pun adalah seorang wanita.
Menurut saya, topik persamaan gender yang menuntut wanita untuk bisa disetarakan dengan kaum pria sudah mencapai satu titik gemilang di era saat ini. Yang harus digembar-gemborkan saat ini justru bagaimana mengubah pola pikir dari para wanita dan mewujudkan perkataan "persamaan gender juga baik bagi laki-laki". Dari apa yang pernah saya pelajari, persamaan gender yang relevan di zaman sekarang adalah bagaimana menghilangkan istiah 'pekerjaan wanita' dan 'pekerjaan laki-laki', maupun istilah 'laki-laki' sebagai pemimpin karena persamaan gender yang saat ini perlu diperjuangkan adalah bagaimana setia orang dapat bekerja di bidang yang mereka minati tanpa perlu memikirkan berbagai cemoohan. Contohnya saja, seorang laki-laki bisa saja menjadi seorang penata rias dan perempuan justru menjadi seorang bodyguard artis. Dengan tuntutan persamaan gender pun berarti bahwa setiap wanita harus bisa mandiri tanpa perlu menggantungkan banyak hal pada laki-laki dengan tanpa menghilangkan kodrat manusia yang diciptakan secara berpasang-pasangan. Dalam ranah rumah tangga pun, seorang laki-laki akan dimudahkan dengan adanya persamaan gender karena seharusnya berbagai beban dan permasalahan yang ada dalam keluarga bukan lah tanggung jawab seorang 'kepala keluarga', tapi disini semua memiliki derajat yang sama untuk memikirkan jalan keluar dari permasalahan. Pengertian kesetaraan gender seperti inilah yang harusnya digalakkan pada masyarakat luas agar mereka tidak menyalahartikan perjuangan menuju kesetaraan gender menjadi ajang 'man-hating'.
Kemudian saya akan menuju ke satu hal yang menurut saya paling banyak mengundang perhatian dari Women's March kemarin. Yaitu beredarnya poster-poster bertuliskan "Badan ku Mau Gimana Urusanku" atau "Urus Nafsumu Sebelum Kau Urus Auratku". Ya memang tidak ada yang salah dari poster-poster tersebut. Hanya saja sedikit membuat saya tergelitik. Disini saya akan membahas secara spesifik mengenai penggunaan baju baju yang too revealing bagi para wanita dan juga pria dari sudut pandang saya. Sebenarnya yang mendasari kalimat-kalimat seperti ini beredar adalah karena pengalaman pahit yang banyak dialami perempuan-perempuan yang mengalami pengalaman yang kurang baik seperti menjadi korban pemerkosaan ataupun pelecehan seksual. Banyak terjadi di masyarakat bahwa perempuan-perempuan yang menjadi korban perkosaan seakan-akan tidak mendapat pembelaan sedikitpun meskipun mereka yang menjadi korbannya, bahkan tak jarang ada beberapa orang yang sampai tega mendukung pelaku pemerkosaan hanya karena 'Yo salahe dhewe nganggo rok mini'. Hal-hal seperti ini sudah sangat wajar terjadi, membuat banyak korban pemerkosaan semakin terguncang kondisi psikologisnya dan bahkan tak sedikit yang akhirnya menjadi gila atau memilih bunuh diri. Tapi pada kenyataannya, pemerkosaan tidak mengenal jenis kelamin. Laki-laki seperti Stephen Kigoma ataupun kasus pemerkosaan seorang pendeta di Zimbabwe oleh tiga wanita menjadi bukti nyata bahwa laki-laki pun bisa menjadi bukti bahwa pemerkosaan dapat terjadi pada siapa saja. Yang menjadi permasalahan adalah, apakah benar pakaian yang terlalu terbuka menjadi sumber permasalahannya? Sepertinya tidak juga. Banyak sekali kasus dimana bahkan wanita berkerudung dengan pakaian tertutup pun menjadi korban perkosaan. Lalu apa yang salah?
Hal seperti ini lebih mudah dibahas dengan satu analogi yang saya sebut rumah dan kunci. Ibarat suatu rumah yang indah, maka akan mengundang banyak orang untuk memiliki rasa ingin memiliki. Oleh karena itulah si pemiliki rumah dibekali dengan kunci yang dapat membuat rumah mereka aman dan tak dapat dimasuki sembarang orang. Namun ada masa-masa dimana bahkan kunci pun tidak dapat membendung orang-orang yang masuk ke rumah dengan cara paksa baik dengan menggergaji pintu, masuk melalui jendela, dan banyak hal lain. Tapi apakah itu berarti bahwa kita tidak perlu lagi memikirkan kunci rumah? toh orang yang pintunya terkunci pun masih dapat dibobol. Tentu tidak. Kita pun tetap harus menjaga rumah kita seaman mungkin karena kita tahu banyak orang di luar sana yang memiliki niat kurang baik, dan dengan menbiarkan rumah kita tidak terkunci, akan semakin memberikan kesempatan bagi orang-orang itu.
Hal tersebut juga terjadi pada manusia dan badannya. Secara alamiah, manusia dimasukan dalam kingdom Animalia yang menjadikan manusia memiliki kebutuhan untuk bereproduksi. Kebutuhan ini bukanlah kebutuhan yang dapat dibendung karena itu merupakan kodrat manusia sebagai makhluk hidup. Dan seperti kebanyakan hewan, manusia pun memiliki banyak cara untuk menarik perhatian lawan jenis. Layaknya burung merak yang menunjukkan ekor indahnya agar menarik lawan jenis, atau singa yang menunjukkan ketangkasan fisiknya agar para betina mau kawin dengannya. Manusia pun dapat memancing ketertarikan lawan jenis dari fitur-fitur fisik yang kita miliki. Laki-laki misalnya, dengan dada bidang dan perut sixpack mungkin sudah cukup untuk membuat banyak wanita tergugah. Begitu pula pada wanita, dapat menggunggah keinginan alamiah lawan jenis untuk dapat melakukan suatu proses perkawinan apabila dipicu oleh hal-hal yang menggunggah seperti lekuk tebuh misalnya. Namun, ada hal berbeda yang membedakan manusia dari genus proxima nya yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan, berpikir, dan membuat pertimbangan. Oleh karena itulah banyak filsuf romawi yang meyebut manusia sebagai Zoon Politicon yang berarti hewan yang dapat berpolitik dimana berpolitik disini bermakna banyak hal, salah satunya yaitu berpikir dan mengambil keputusan. Hewan mungkin memiliki kemampuan yang sama ai tidak ada satu makhluk hidup pun yang dibekali dengan kemampuan pikiran yang sama dengan manusia. Keunggulan dalam mengambil keputusan dan berpikir itu lah yang membuat kita mampu membuat sarang-sarang dari baja yang bahkan menjulang tinggi hingga ke langit. Kemampuan untuk berinovasi itulah yang membuat manusia mampu memiliki cakar-cakar yang dapat digunakan dari jarak jauh dengan satu tarikan pelatuk. Dan inilah yang harus dimiliki setiap orang. Kita boleh memiliki nafsu kebinatangan kita setiap kali melihat seorang wanita berpakaian seksi ataupun seorang lelaki tampan berbadan besar. Namun kita juga dibekali kemampuan untuk mengontrol nafsu tersebut dan merubahnya untuk hal-hal yang lain. Begitu pun kita memiliki pilihan untuk menjadi seaman yang kita inginkan. Dengan mengetahui apa-apa yang dapat menggugah nafsu kebinatangan lawan jenis, seharusnya kita pun dapat lebih bijak dalam memilih apa yang kita kenakan sebagai bentuk proteksi bagi diri sendiri.
Comments
Post a Comment