Ngeri di Fresno

Pagi itu aku terbangun karena Reagan, kucing milik Ms. Deanna -liaison ku- menggaruk-garuk pintu meminta untuk masuk. Hmm, sudah hampir seminggu aku habiskan bersama liaison terbaik sedunia, juga bersama Jonah dan Kenzie. Pagi ini aku memikirkan untuk bersepeda menjelajah Fresno, berbekal pengalaman yang aku dapat beberapa hari sebelumnya, bersepada selama hampir 5 jam non-stop hanya keliling-keliling kota -bahkan hingga ke Tower District Fresno yang memakan hampir 1 jam untuk bersepeda kesana berdasarkan data dari Google Map hehe meski pada nyatanya lebih dari 1 jam - aku pun ingin bersepeda lagi, kali ini tujuanku adalah Downtown Fresno. Meskipun Deanna sudah pernah mengajakku berkeliling-keliling Fresno, namun ada rasa yang berbeda jika bisa berkeliling sendiri. Namun rencana mulia ku terpaksa harus kumusnahkan karena Playstation 4 yang baru saja dibeli Jonah kurang lebih sebulan lalu. Apalagi selera game Jonah benar-benar sama denganku : Call of Duty, Battlefield!

Pagi hariku diisi dengan bermalas-malasan sambil belajar sejarah dari 'Battlefield 1'. Ya, kurang lebih begitulah bagaimana aku membunuh waktu, niatku bersepeda ke Downtown area jadi hilang, lha yo arep piye? leyeh-leyeh ae yo enak kok hehe.


Semua berjalan baik-baik saja sampai Ms. Deanna pulang dan bertanya "Did you hear what just happened?", akupun dengan muka polos hanya menggeleng sambil menjawab, "No, what happened?"
"Turn off the PS4, let's watch the news...". Aku pun mulai merasa tegang sendiri. Jonah pun pulang hanya beberapa menit setelah Ms. Deanna, kita duduk manis di depan TV sambil menonton breaking news yang membuat ku makin tegang, "3 People Dead in Fresno Shooting : The Murder Yelled 'Allahuakbar' " Tegangku disini bukan karena penembakan, karena aku yakin si penembak tidak akan lari ke sini, namun  lebih karena : aku juga seorang muslim, dan aku merasa tersinggung mendengar bahwa ia meneriakkan kalimat suci bagi uma islam dalam pembunuhan.


Ms. Deanna dan Jonah pun mulai melirikku, Ya Allah gusti, iki yo aku malah tambah grogi. Jonah pun bertanya, "What does Allahuakbar mean?", begitupun Ms. Deanna, namun sebelum aku empat menjawab, berita TV pun juga menjelaskan apa arti 'Allahuakbar' :
"Allahuakbar is a holy phrase often said by muslims as an expression of gratefulness, amazement, or in their pray call (azan). However, it has been misused by terrorist group which make it equivalent to a threat for most people in the U.S, but using 'Allahuakbar' before commiting criminals and violence hurts all the muslims' feeling"
Mendengarnya, Ms. Deanna pun tersenyum sambil berkata "That's a nice explanation, and that's right! You should be angry for those irresponsible people who use that holy words to commit violence!"



Keesokan harinya, ketika host mom ku menjemputku untuk pulang kembali ke Mariposa etelah mereka berlibur ke Oregon State. Sepanjang jalan pulang pun kita berdiskusi perihal penembakan di Fresno. bahwa bagaimana orang-orang yang hanya berpikir pendek akan memandang itu sebagai sebuah hal yang biasa, dan menyalahkan suatu kelompok secara umum - dalam konteks ini, umat Islam. Meski kalau dilihat lebih dalam dari pelaku penembakan yang memang muslim, motivasi yang dia miliki bukan lah  non-muslim hating atau termotivasi oleh alasan religi, namun lebih karena isu rasial yang sedang mulai memana kembali di beberapa wilayah di Amerika Serikat pasca terpilihnya presiden baru AS.
"Dulu ya juga pernah ada kasus gini og, tapi dulu itu penusukan." kata host mom ku.
"Penusukan massal?" tanyaku.
"Lha iyo, di Merced College itu yak dulu ada pelajar African-American yang kebetulan juga muslim, terus karena alasan ras, dia bawa pisau ke sekolah terus nusuk-nusukin temannya. Coba bayangin ngerinya gimana? Temen kamu, setahun bareng di kelas, tiba-tiba masuk kelas bawa pisau langsung ngodel-odel temennya."
"Ngeri banget iku, bu"
"Ya gitu, beberapa orang pas denger yo langsung, 'wah yo biasa kui wong muslim yo ngunu iku' tapi aku dhewe yo percaya yen ora kabeh muslim ngunu..."
"Muslim ya ndak ngunu bu... Iku dudu muslim"

Tapi memang kita juga tidak bisa menyalahkan mereka karena pada nyatanya memang banyak kasus yang terjadi belakangan yang mencoreng nama baik umat muslim, tapi kasus seperti ini bukan hal baru. Prasangka, dan generalisasi kepada suatu bangsa atau kelompok tertentu juga sudah terjadi sejak lama di Amerika Serikat. Sewaktu Perang Dunia 2, banyak orang Amerika Serikat yang takut terhadap orang Jerman atau Jepang karena mereka percaya bahwa mereka adalah orang-orang jahat, penjahat perang, dan tidak berperikemanusiaan, terlebih terhadap Jepang yang memulai perang tanpa ada satupun pernyataan perang secara resmi. Ini bisa dilihat dalam kasus Korematsu vs United States, Korematsu yang merupakan warga biasa keturunan Jepang bersikukuh untuk tetap tinggal di California meskipun banyak orang berprasangka ia dapat mengancam keamanan warga setempat dan berpotensi melakukan spionase. Meskipun pada nyatanya, dia memang merupakan warga sipil biasa yang terdampar di situasi perang, namun kasus ini merupakan salah satu contoh nyata bahwa prasangka dan asumsi secara general kepada suatu bangsa sudah terjadi sejak lama dan subjeknya pun bukan hanya satu, dua bangsa saja. Hanya karena di era ini banyak hal-hal tak diinginkan yang melibatkan umat Islam lah yang menyebabkan terjadinya hal-hal seperti itu.

Malam harinya aku mencoba merbahkan diri sembari mencoba untuk melepas lelah sambil memikirkan satu hal yang mengganjal - Apa jadinya jika aku berteriak 'Allahuakbar' murni karena kagum akan sesuatu di dekat para petugas TSA di bandara? hahaha, ojo aneh-aneh ngunu lah.

Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Mengulang Kembali

Wah Seksinya