Sejarah Mengulang Kembali
Belakangan ini, publik sedang banyak digelitik dengan pernyataaan salah satu tokoh politik di negeri ini karena pernyataannya yang menyebut bahwa Indonesia akan runtuh di tahun 2030. Yang menjadi menarik adalah karena pernyataannya bersumber dari sebuah novel fiksi ilmiah karya P.W. Singer berjudul 'Ghost Fleet' yang kemudian ditanggapi secara langsung oleh penulisnya bahwa apa yang dia tuliskan bukanlah suatu prediksi ataupun suatu bentuk penistaan terhadap bangsa lain tapi murni hanyalah karangan fiksi. Namun terlepas dari itu semua, dan terlepas dari setuju tidaknya aku terhadap apa yang dinyatakan oleh tokoh politik satu ini, pertanyaan mengenai seberapa lama Indonesia akan tetap berdiri sebagai sebuah negara sudah lama munncul. Bahkan sejak saya masih duduk di bangku kelas VIII.
Rasa penasaran saya kala itu bukan suatu rasa penasaran tanpa dasar yang hanya butuh jawaban sederhana layaknya rasa penasaran seorang anak kecil. Namun rasa penasaran itu tumbuh dari banyak buku-buku dan arikel-artikel yang saya baca -kebetulan sejak kecil saya sangat menikmati buku-buku yang membahas tentang sejarah dunia- mengenai bangsa-bangsa lain seperti China, Mesir, Persia, dan Romawi. Bangsa-bangsa tersebut bukanlah bangsa ecek-ecekan kelas teri yang dibentuk oleh segelintir orang, namun bangsa-bangsa tersebut adalah bangsa yang pernah menjadi sebuah imperium besar yang bahkan beberapa diantaranya pernah menguasai sepertiga daratan bumi. Bangsa-bangsa tersebut bertahan hingga ribuan tahun dan bahkan pengaruhnya masih sangat terasa hingga sekarang. Dan tetap saja, roda akan berputar sebanding lurus dengan perjalanan waktu, imperium-imperium tersebut sudah lama runtuh. Bahkan kalau saya boleh bilang, keruntuhan tersebut menjalar hingga ketaraf bangsa, bukan lagi sekedar hancurnya suatu pemerintahan dan pengaruhnya layaknya runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990.
Padahal seperti yang kita tahu, mereka sudah menjadi suatu imperium yang kuat untuk waktu yang lama dan telah mengalami berbagai pergolakan dari dalam dan luar yang tetap dapat ditangani dengan baik. Bukan hanya itu saja, imperium-imperium tersebut berdiri di atas banyak anak bangsa lain yang tunduk dalam pengaruhnya. Yuval Noah Harari, sejarawan berdarah Israel, mengatakan bahwa untuk bisa disebut imperium, setidaknya mereka harus menguasai 20-30 bangsa jajahan. Sebagai contoh, Yunani menguasai sekitar 40 anak bangsa dan bangsa Aztec bahkan menguasai hingga 370 anak bangsa. Keruntuhan bangsa-bangsa sekelas itu jelas bukan hanya sebatas takdir yang telah ditetapkan oleh Yang Kuasa, tetapi juga karena campur tangan manusia-manusia yang ada di dalamnya.
Jika bangsa-bangsa seperti mereka pun runtuh, bagaimana dengan negara kita yang boleh dibilang baru seumur jagung. Indonesia sebagai suatu bangsa jelas sudah berdiri sejak lama, bahkan lebih lama dari usia Indonesia sebagai sebuah negara. Sejak orang-orang Yunnan yang bermigrasi ke kepulauan nusantara mendirikan peradaban baru, hingga ke masa dimana armada laut Sriwijaya menjadi yang terkuat di semenanjung Malaya, bahkan hingga hari dimana Setya Nov*tiiiiittttt* menangis di depan hakim, bangsa indonesia sudah menjadi suatu peradaban tua yang masih langgeng hingga sekarang. Lalu bagaimana dengan Indonesia sebagai negara yang didirkan atas dasar semangat ingin merdeka dari belenggu imperial barat dan timur dan membawa masa depannya sendiri. 15 dan 20 tahun dari sekarang bukanlah waktu yang lama dalam sejarah. Lalu akankah negara kita nantinya akan meninggalkan pengaruh yang kuat bagi bangsanya sendiri serta bagi bangsa sekitar? Akankah pengaruh kita menjadi sekuat Kolonial Belanda yang meskipun kita selalu diajarkan bahwa dahulu mereka-mereka adalah orang-orang jahat yang hanya menguras sumber daya alam, toh kita tetap mengadaptasi hukum-hukum mereka. Bahkan penetapan bahasa indonesia sebagai lingua franca di era dimana banyak pemuda menjadi anti imperialis kebarat-baratan, toh tetap saja 90% bahasa kita merupakan bahasa serapan dari bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa orang-orang barat.
Kembali ke masalah keruntuhan imperium-imperium masa lampau, dari ribuan tahun kejayaan mereka, dan luasnya wilayah dari masing-masing imperium, jika diperhatikan, hampir semua imperium runtuh karena banyaknya praktik korupsi, menguatnya intoleransi, dan saling memikirkan perut sendiri, serta masuknya pengaruh budaya lain yang lebih kuat dari budaya sendiri. Bisa kita lihat dari sejarah runtuhnya kekaisaran terakhir di Tiongkok, yang meskipun secara kasat mata keruntuhan mereka disebabkan karena kondisi yang semrawut pasca pecahnya Perang Candu 2, toh nyatanya jika dikaji lebih dalam, Dinasti Qing sudah diambang kematian jauh sejak 1864 saat seorang Hong Xiuquan yang mengaku dirinya sebagai titisan Tuhan dan berniat untuk mendirikan negara sendiri dimana ia menyebutnya sebagai 'Kerajaan Surgawi', terdengar konyol namun dia berhasil mengumpulkan banyak pengikut hingga berhasil menduduki Nanjing. Walaupun toh akhirnya pemberontakan berhasil diredam berkat modernisasi militer yang diinisiasi oleh Jenderal Li Hongzhang, ancaman internal terus berlangsung seperti banyaknya praktik-praktik korupsi yang memanfaatkan dana modernisasi militer, serta pemberontakan kaum Boxer yang dilandasi frustasi yang disebabkan kekalahan bertubi-tubi dari bangsa asing, membuat Dinasti Qing makin melemah. Puncaknya terjadi ketika rakyat sipil kehilangan kepercayaan dengan gagasan modernisasi militer yang nyatanya hanyalah omong kosong yang sama sekali tidak memperkuat Tiongkok akibat banyaknya praktik korupsi dibaliknya. Hal serupa terjadi pula pada kekaisaran romawi semnjak pembagian kekuasaan antara Romawi Barat di Milan dan Romawi Timur Konstantinopel yang sebenarnya dibagi untuk memudahkan berjalannya pemerintahan, toh akhirnya justru memecah belah karena perbedaan budaya yang ada.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Negara kita bukan dibangun berdasarkan kesamaan ras, letak geografis, kesamaan suku bangsa, atau semata karena ingin bebas dari segala peraturan yang ada. Negara kita dibangun berdasarkan perasaan senasib setelah dijajah oleh berbagai bangsa. Rasa senasib itu bukan datang dari satu golongan saja, tapi dari ratusan golongan yang masing-masing memiliki bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Perbedaan itu slain sebagai suatu sumber kekuatan, namun juga merupakan ancaman nyata yang selalu membayang-bayangi bangsa ini selama hampir satu abad perjalanannya. Jika Romawi yang hanya terbelah karena perbedaan antara barat dan timur saja bisa hancur, bagaimana dengan negara ini yang memiliki Batak, Jawa, Ambon, Asmat, dan banyak lagi? Belum lagi dengan banyaknya kasus korupsi yang bukan lagi di atas meja, tapi bahkan sudah di atas atap, semua sangat jelas dan nyata hingga ke tingkat pemerintah daerah dan aparat-aparat penegak hukum. Bahkan seorang koruptor bisa dengan mudah membuat drama dengan beragam plot twistnya yang membuat udel ingin menari-nari sambil menampar. Ditambah lagi dengan banyaknya isu-isu SARA yang mulai menjadi isu yang hangat dalam satu dekade terakhir ini, wacana pembentukan negara khalifah, dan saling mengkafirkan satu sama lain. Apakah itu semua merupakan bukti nyata bahwa Indonesia sebagai negara memang sudah menuju kemunduran? Atau justru semua ini akan menjadi sesuatu yang malah membuat bangsa kita menjadi lebih besar? Entahlah. Tapi yang jelas, apa yang politikus tadi katakan mengenai Indonesia akan hancur pada 2030, atapun cerita karangan P.W Singer bukanlah suatu yang tidak mungkin.
Seperti yang dikatakan Thucydides bahwa kehidupan manusia cenderung stabil dan sejarah akan mengulang dirinya sendiri, ataupun perkataan Nicolo Machiavelli dalam Discorsi nya bahwa siapapun yang mempelajari masa lalu dan masa depan akan mengamati bahwa setiap orang dari setiap peradaban dihiasi oleh keinginan dan semangat yang sama. Oleh karena itu, Nicolo mengatakan bahwa bukanlah hal yang sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan dengan memperhatikan apa yang sedang terjadi sekarang, karena pada dasarnya sejarah adalah repetisi dari hal yang dilandasi semangat dan keinginan yang sama, ataupun sebab-sebab yang sama. Konsep repetisi sejarah ini seharusnya bisa membuat kita lebih was-was dengan eksistensi negara kita yang berdasarkan kondisinya, sudah memiliki pola-pola yang mirip dengan yang dimiliki Dinasti Qing sebelum kehancurannya.
Seperti yang dikatakan Thucydides bahwa kehidupan manusia cenderung stabil dan sejarah akan mengulang dirinya sendiri, ataupun perkataan Nicolo Machiavelli dalam Discorsi nya bahwa siapapun yang mempelajari masa lalu dan masa depan akan mengamati bahwa setiap orang dari setiap peradaban dihiasi oleh keinginan dan semangat yang sama. Oleh karena itu, Nicolo mengatakan bahwa bukanlah hal yang sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan dengan memperhatikan apa yang sedang terjadi sekarang, karena pada dasarnya sejarah adalah repetisi dari hal yang dilandasi semangat dan keinginan yang sama, ataupun sebab-sebab yang sama. Konsep repetisi sejarah ini seharusnya bisa membuat kita lebih was-was dengan eksistensi negara kita yang berdasarkan kondisinya, sudah memiliki pola-pola yang mirip dengan yang dimiliki Dinasti Qing sebelum kehancurannya.
Meninggalkan jejak 2020
ReplyDelete