Sate Pak, Sate!
Untuk kedua kalinya saya harus berada jauh dari rumah untuk hari besar ini. Entah kenapa membawa memori tahun lalu yang tak akan pernah terlupakan. Hari itu hari yang spesial bagi semua umat muslim, terlebih di Ende. Kami semua turun kapal dan mengenakan pakaian tebaik kami, walaupun yang ada ya, pakaian itu-itu saja haha, tapi paling tidak sudah kami cuci di dek. Suasana lebaran haji di Ende berbeda dengan di Tegal, masjid yang ada tidak cukup untuk menampung seluruh umat muslim di Ende, terlebih dengan tambahan ratusan orang dari KRI Makassar 590,
![]() |
| 35 hari di lautan bukanlah waktu yang singkat, namun mudahnya melihat sunrise dan sunset memberi rasa berbeda. |
kami semua melaksanakan sholat sunnah di lapangan setempat. Rasa damai dan rindu akan keluarga benar-benar terasa membuta saya benar-benar menghayati lebaran ini. Ternyata seperti ini rasanya berada jauh dari tanah kelahiran, walaupun masih di negeri sendiri, bagaimana jadinya jika aku di luar nanti?
Satu hal yang juga menandai lebaran haji adalah aroma sate yang bisa tercium dari rumah ke rumah, tapi di Ende, aku tidak begitu mencium aroma sate ini, “mm, mungkin mereka punya hidangan berbeda”. Sate ini bukan sembarang makanan, walaupun terlihat sederhana -daging yang dipotong dadu dan ditusuk menjadi beberapa baris untuk kemudian dibakar- namun sate ini merupakan pembawa kebersamaan, atau bisa kita bilang The Unifier. Dari proses pembuatannya, siapa yang tidak merasa girang sewaktu orang tua kita sedang memotong-motong daging, membawa seratus lidi, pasti banyak anak akan merasa kegirangan. Apalagi ketika bapak kita sudah mulai membakar, dan aroma harum daging yang dilumuri bumbu mulai tercium? Berapa banyak keluarga yang dipersatukan di depan sate yang dihidangkan? Berapa banyak anak-anak yang telah merantau pulang ke rumah orang tua meraka dan disambut dengan sate. Sate ini bukan hanya makanan namun juga bagian dari tradisi.
Tahun ini, tidak ada aroma sate, tidak ada suara-suara azan yang berkumandang, tidak ada bau-bau apek hewan kurban yang sudah berjajar di dekat masjid. Ingin rasanya aku berada di rumah, seperti saat kecil dulu, kegirangan sambil berkata “Sate, pak! Sate!”
Mariposa, California
12 September 2016.
Satu hal yang juga menandai lebaran haji adalah aroma sate yang bisa tercium dari rumah ke rumah, tapi di Ende, aku tidak begitu mencium aroma sate ini, “mm, mungkin mereka punya hidangan berbeda”. Sate ini bukan sembarang makanan, walaupun terlihat sederhana -daging yang dipotong dadu dan ditusuk menjadi beberapa baris untuk kemudian dibakar- namun sate ini merupakan pembawa kebersamaan, atau bisa kita bilang The Unifier. Dari proses pembuatannya, siapa yang tidak merasa girang sewaktu orang tua kita sedang memotong-motong daging, membawa seratus lidi, pasti banyak anak akan merasa kegirangan. Apalagi ketika bapak kita sudah mulai membakar, dan aroma harum daging yang dilumuri bumbu mulai tercium? Berapa banyak keluarga yang dipersatukan di depan sate yang dihidangkan? Berapa banyak anak-anak yang telah merantau pulang ke rumah orang tua meraka dan disambut dengan sate. Sate ini bukan hanya makanan namun juga bagian dari tradisi.
Tahun ini, tidak ada aroma sate, tidak ada suara-suara azan yang berkumandang, tidak ada bau-bau apek hewan kurban yang sudah berjajar di dekat masjid. Ingin rasanya aku berada di rumah, seperti saat kecil dulu, kegirangan sambil berkata “Sate, pak! Sate!”
Mariposa, California
12 September 2016.

Comments
Post a Comment