Oemar Bakri Masihkah Kau Mengabdi?

      Beberapa minggu sudah aku habiskan minggu-minggu pertamaku untuk beradaptasi kembali dengan lingkungan yang membesarkanku. Benar saja yang dikatakan sewaktu reorientasi di Jakarta bahwa untuk beberapa saat kita akan merasa terbuang ataupun terasingkan persis seperti beberapa minggu pasca kedatangan kita ke negeri rantauan. Tapi yang jelas, rasa keterasingan yang kini aku rasakan  bukan lagi perkara cultural shock yang terjadi karena aku heran dan terkagum-kagum dengan hal yang baru. Namun lebih ke cultural shock pada apa yang sebenarnya sudah biasa aku saksikan selama 16 tahun waktuku di negeri ini, terasa seperti sesuatu yang baru yang sangat menggelitik. Bukan karena hal-hal tersebut lucu, namun juga karena aku memiliki cara pandang ayng berbeda akan apa dan bagaimana itu semestinya terjadi.

    Pertama mengenai kebiasaan membuang sampah dan merapikan apa yang sudah kita buat. Karena merasa keimananku sudah banyak terkikis akibat tidak mendapatkan siraman rohani selama setahun, aku memutuskan untuk banyak mengikuti pengajian-pengajian dan kegiatan-kegiatan yang bersifat keagaman. Sederhana tujuannya, selain karena rasa rinduku untuk bisa berkumpul bersama teman-teman sembari mendengarkan kisah-kisah yang memberi kita pelajaran akan pentingnya bersyukur pada Sang Pencipta. Tapi rasanya pun jauh berbeda dari biasanya, terlebih karena setiap kali ada kegiatan bertajuk 'Pengajian Akbar' ataupun sejenisnya, dapat dipastikan bahwa seusai kegiatan tersebut, akan banyak sampah-sampah berserakan, ataupun konvoi-konvoi motor dengan meraungkan mesin-mesinnya sembari yang membonceng mengibarkan bendera sembari menjerit 'Allahuakbar'. hal seperti inilah yang kemudian membuatku berpikir "Apa artinya kita belajar fiqih, belajar akhlak, dan berguru pada ulama-ulama besar jika toh ujung-ujungnya kita tidak bisa membuang sampah pada tempatnya dan membuat bising sekitar dengan raungan motor dan jeritan takbir di malam hari?". Tentu jawaban setiap orang akan pertanyaan retoris tersebut berbeda-beda. Akan ada yang menjawab "semua kembali kepada orangnya." 

     Kedua, tentang superioritas mayoritas. Entah kata apa yang harus mewakili hal satu ini, tapi kata 'superior' cocok untuk mewakili mayoritas dan 'inferior' untuk kaum minoritas. Ada beberapa golongan mayoritas yang dengan beraninya melakukan sweeping terhadap  rumah-rumah makan yang tetap buka di bulan Ramadhan,ataupun aksi superioritas di jalanan yang baru saja aku sebut. Konvoi kendaraan bermotor, meneriakkan takbir hingga ke ujung tenggorokan, dan meraungkan mesin-mesin motor hingga membuat bising. Hal itu mungkin wajar terjadi pada kaum mayoritas dimanapun dimana mereka berpikir bahwa dengan menjadi mayoritas, artinya menjadi puncak di piramida sosial. Bahkan di Amerika pun banyak orang-orang kulit putih yang masih menganggap bahwa orang-orang kulit hitam, yahudi, muslim, dan orang-orang non-kristiani sebagai inferior yang harus tunduk pada mayoritas. Tapi hanya karena hal tersebut terjadi di banyak negara bukan berarti kita dapat membenarkan hal tersebut jika itu terjadi di depan mata. Sepertinya saya harus membuat post tersendiri untuk menumpahkan seluruh pikiran terkait mayoritas dan minoritas ini.

     Ketiga, inilah yang paling membuatku tergelitik. Tahun pelajaran kali ini, pemerintah memiliki kebijakan berbeda di mana sekolah yang berada di wilayah kota, harus memprioritaskan pelajar yang datang dari dalam kota meskipun nilai mereka tidak sebanding dengan yang datang di luar kota. Kebijakan ini disebut rayonisasi. Akibat dari rayonisasi ini adalah menurunnya kualitas input di sekolah ku. Hal ini jelas membuat banyak guru di sekolahku kegerahan, bagaimana tidak? sekolah yang biasanya hanya menerima siswa-siswa dengan nilai tertinggi, akhirnya harus rela menerima siswa bernilai jauh di batas wajar input siswa tahun sebelumnya. Hal ini membuat beberapa guru mulai mengeluarkan unek-unek mereka. Tapi yang paling mengganggu adalah tatkala mereka mengungkapkan kata seperti "Saya hanya akan mengajar seperti biasanya," atau kata-kata seperti "Biarkan saja, mereka pikir mereka akan dituntun jika masuk sini." 
     
     Walaupun toh perkataan mereka tidak akan berpengaruh kepadaku, namun hal tersebut rasanya melukai perasaanku. Aku mungkin tidak memiliki bakat mengajar, ataupun pengalaman menjadi guru sehingga aku tidak tahu benar bagaimana rasanya menjadi seorang guru. Tapi bukankah dengan menjadi guru, terlebih seorang pegawa negeri sipil, artinya mereka sudah berikrar untuk mengabdikan jiwa raganya untuk pendidikan?  Dengaan menjadi guru seharusnya para guru pun dapat beradaptasi untuk berhadapan dengan berbagai macam siswa, bahkan ketika mereka harus diuji untuk berhadapan dengan siswa yang kurang baik jika diukur berdasarkan nilai layaknya seorang murid yang harus dituntut dengan perubahan ini itu. Mungkin beberapa orang akan berpendapat bahwa, "Loh, mereka kan juga punya keluarga dan kehidupan yang juga harus mereka pikirkan." Ya, memang benar. Siapa yang bilang bahwa guru harus mengabdikan jiwa dan raga seutuhnya? Tapi saya memiliki keyakinan sendiri bahwa apabila seseorang sudah mendedikasikan dirinya untuk suatu pekerjaan, maka ia harus melakukannya dengan totalitas. 

     Pikiran-pikiran tersebut datang bukan tanpa sebab, tapi semua bersumber pada pengalaman pribadi dimana di sekolah saya di California, saya tidak pernah merasakan adanya batasan antara murid dan guru dalam artian positif. Guru tidak menempatkan diri sebagai seorang yang mesti dihormati dan murid tidak menempatkan dirinya sebagai pencari nilai. Seluruh proses belajar mengajar terjadi karena sang guru menyukai apa yang ia ajarkan dan ingin membuat seluruh muridnya paham, dan nmurid mempelajari karena mereka suka dengan bidang tersebut. Entah mengapa, bayangan sosok guru seperti Mr. Jewell dan Mr. Marcus selalu muncul dalam bayanganku. Mereka tidak pernah menciptakan suasana yang menimbulkan keseganan untuk berinteraksi bagi para muridnya. Mr. Jewell selalu membawa kelasnya dalam keadaan yang santai, mengajak nonton film bersama saat murid-murid sedang jenuh untuk berhadapan dengan kalkulus, dan Mr. Jewell pun akan mendatangi setiap siswa yang mengalami masalah dalam nilainya untuk sekedar berkata 'What's uo?' dan bertanya mengenai kesulitan apa yang sedang ia hadapi sehingga nilainya jelek. Bahkan aku masih teringat betul hari pertamaku berada di kelasnya, dia berkali-kali mendatangi mejaku setiap kali ia selesai menjelaskan konsep logaritma untuk memastikan bahwa ia tidak berbicara terlalu cepat untuk seorang yang belum terbiasa menggunakan bahasa inggris dan memastikan bahwa aku menangkap apa yang diajarkan walaupun sebenarnya aku sudah mengerti tentang logaritma sejak kelas X, tapi hal itu sungguh sangat berkesan.

     Kembali lagi pada masalah guru yang kegerahan akibat rayonisasi. Barangkali kegerahan ini timbul karena masalah nilai ataupun karena ada siswa yang  memiliki catatan buruk dan bisa masuk ke sekolah favorit. Hal itu wajar menurut saya, namun akan lebih baik jika setiap  guru tidak memandang muridnya sebagai nilai berjalan, tapi sebagai kepribadian unik. Sekolah memang akan melihat segala sesuatu berdasarkan nilai  karena itulah bukti fisik dari apa yang kita pelajari dan sejauh mana pemahaman kita, namun pendidikan seharusnya tidak hanya memandang setiap manusia hanya melalui nilai. Aku percaya, setiap manusia bernilai lebih  dari nilai matematika yang dia miliki.

     Hal-hal seperti ini kadang membuat pikiranku bertanya-tanya, apakah di saat ini, lebih banyak guru yang memandang pekerjaannya hanya sebatas pekerjaan yang setara dengan pekerjaan kantoran? Apakah masih ada guru-guru seperti yang digambarkan dalam lagu Oemar Bakri? Jawabannya jelas masih. Hanya saja mungkin saat ini, semua tidak begitu jelas. Dahulu, orang-orang yang ingin menjadi guru, memilikih pekerjaan tersebut bukan karena penghasilannya, lah wong mentok-mentoke mereka yo mung pake pit onthel. Namun murni karena panggilan jiwa mereka dan itu adalah hal yang dapat mereka nikmati. Namun hari ini, berapa banyak orang ingin menjadi guru hanya karena bayangan hidup 'gak berangkat pun digaji, anak libur ikut libur'? Kesejahteraan guru di hari ini sudah jauh lebih tinggi daripada guru-guru se-letting Oemar Bakri dan itu harusnya menjadi suatu lecutan untuk bisa lebih merangkul kami, para siswanyaa, dengan pendidikan yang mengena hingga ke taraf kepribadian.

     Tulisan ini bukan saya buat sebagai bentuk ketidakhormatan ku pada guru-guru yang mengajarku, namun tulisan ini dibuat sebatas untuk menumpahkan apa yang ada di pikiranku agar tidak terjebak dan terus mengganggu. Aku sangat menghormati guru-guru di sekolah, beberapa guru bahkan sangat aku sukai, namun mungkin ada beberapa hal yang membuatku kemudian memiliki pikiran seperti yang sudah aku tuliskan. Namun saya, sebagai seorang siswa pun merasa masih banyak yang perlu saya benahi dalam diri saya. Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip lirik dari lagu Oemar Bakri karya Iwan Falls

Umar Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Umar Bakri Umar Bakri
Banyak ciptakan menteri
Umar Bakri
Profesor dokter insinyurpun jadi
Bikin otak orang seperti otak Habibie
Tapi mengapa gaji guru Umar Bakri
Seperti dikebiri

Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Mengulang Kembali

Wah Seksinya

Ngeri di Fresno